Hallo!
Blog ini udah berjaring laba-laba kali ya karena gue udah gak
pernah update, bahkan buka aja udah
gak pernah. Padahal blog terakhir gue, gue bilang gue mau lebih sering nge-blog.
But ternyata susah ya mencari waktu
untuk nge-blog lagi. Disamping waktu itu gue masih kuliah dan ngurus skripsi,
gue juga belum punya konten yang pingin gue share
disini
Okay ! Sedikit cerita hari-hari terakhir gue sebagai
mahasiswa Teknik Sipil UI. I was taking
this major concentrated in Construction
Management. Selama empat tahun kuliah, di Teknik Sipil ada enam peminatan
yang akan menjadi konsentrasi kita untuk mengambil judul dan tema skripsi kita
(biasanya sih gitu, belum nemu soalnya yang ngambil peminatan Manajemen
Konstruksi skripsinya Struktur). These
six concentrations are Struktur, Manajemen Konstruksi, Geoteknik, Manajemen
Sumber Daya Air, Transportasi, dan Lingkungan. Jarang sih yang ngambil
peminatan terakhir itu, Lingkungan, di angkatan gue jurusan Teknik Sipil sepertinya
tidak ada yang ngambil peminatan itu. Di UI, Departemen Teknik Sipil dibagi menjadi
dua jurusan, Teknik Sipil dan Teknik Lingkungan. Jadi Lingkungan sudah pasti
menjadi konsentrasinya anak-anak TekLing.
Di tahun ketiga, gue memantapkan hati untuk mengambil
peminatan Manajemen Konstruksi dengan alasan………………….. nilai struktur gue jelek
selama dua tahun kuliah. HAHAHA. Tapi gak itu aja kok… Gue memang lebih tertarik
dengan Manajemen Konstruksi karena sifatnya lebih dinamis. Apaya…. Belajar
manajemen itu menurut gue hal yang agak abstrak, ya gak? Soalnya kita membuat
sistem yang gak punya rumus. Rumus yang dipake orang manajemen itu sejauh gue
belajar adalah intuisi dan pengalaman. Dan gue merasa lebih tertantang dengan
hal-hal yang dinamis.
Skripsi
gue mengenai Sistem Manajemen Mutu yang dilakukan di Indonesia khususnya
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Menuju sidang skripsi ini gak begitu
banyak drama kayak menuju sidang seminar. HAHA. Parah sih memang sidang seminar
kemarin (this story had been told on the
previous blog). Pokoknya gue sangat bersyukur akhirnya bisa menyelesaikan
studi gue di Universitas Indonesia as a
Civil Engineer. Terimakasih ya Allah 😊
My Paradies 💕
Setelah sidang skripsi, mahasiswa sudah dianggap lulus jika sudah
dikatakan lulus immediately setelah
sidang skripsi. Jadi kalau udah lulus, berarti udah gak terlalu penting ke
kampus kecuali ngurusin hal-hal untuk kelulusan.
Saudara gue dari Medan tiba-tiba ngehubungin gue, mereka
bilang mau ke Jakarta. And I was very
happy about it. Oh iya, gue sebenarnya suka Travelling. Terakhir ketemu saudara gue ini, gue dan mereka ke
Malaysia. Selain jalan-jalan, sekalian tuh ngunjungin saudara-saudara gue yang
ada di Malaysia. Tapi gue belum banyak sih ngelakuin Travelling, selain it needs
money of course, waktu buat ngelakuin ini juga susah banget nyarinya karena
gue masih kuliah dan selama kuliah itu emang gue ngikutin organisasi dan
beberapa kepanitiaan yang membuat gue mikir banyak untuk taking breaks for travelling. Minus dari gue adalah gue orang yang gak
enakan. I can’t say no for anybody else.
Kadang kekurangan gue ini menjadi senjata orang-orang untuk persuade me ngelakuin yang mereka
butuhkan. Poor me ☹.
Jadi setelah gue menyelesaikan kuliah gue, gue pingin banget bisa liburan sama
keluarga gue. Kalau keluarga gue susah buat ngumpul, I still force myself into it even alone. Hehehe.
Sebelum saudara gue ngehubungin, papa dan mama gue ngajakin
untuk ke Bali untuk refreshing dan
jenguk papa gue yang lagi dinas disana. Udah setahun papa gue dinas di Bali.
Kadang tiap minggu pulang ke rumah di Bekasi/Jakarta, kadang sebulan sekali
baru bisa pulang. Jadi gue bikin jadwal untuk jalan-jalan sama saudara-saudara
gue dan keluarga gue. Alhasil selama satu minggu sebelum wisuda, gue
jalan-jalan sama keluarga gue dan juga saudara-saudara gue.
Hari pertama saudara gue datang ke Jakarta mereka ke
Apartemen gue di daerah Pancoran. Besoknya kita ke Bandung, menginap satu malam
dan mengunjungi beberapa tempat yang hits.
HEHE. Di Bandung kita nginap di hotel yang unik banget bentuknya. It has an artistic and fun interior design.
Harganya juga gak mahal-mahal banget. Untuk nginap rame-rame sih gak gitu mahal
menurut gue. Saran gue sebelum memesan kamarnya, kita samperin dulu hotelnya
nanya harganya walaupun sekarang lebih canggih ya. Kita bisa pesan kamar hotel
dari jarak jauh juga melalui beberapa agent
companies that provide services for booking hotel room. Terkadang di hotel
juga ada potongan harga untuk beberapa penawaran. Makanya lebih baik kita ke
hotelnya dulu, tanya deh ada promo apa di hotel itu, setelah itu baru kita
tentukan mau pesan kamar melalui yang mana. Tapi tergantung kebutuhan sih,
kalau emang yang penting udah dapat kamar, ya memang lebih baik dari jarak
jauh. Tapi kalau mau more economical,
lebih baik ke hotelnya dulu menurut gue.
Hotel ini adalah Oliver’s Hostelry yang berada
di Jl. Panumbang Raya No. 5, Ciumbuleuit, Bandung. Luas hotel ini menurut gue
gak begitu luas, mungkin lebih mirip kayak kos-kosan tapi hotel. Hehehe. Untuk
sampai ke hotel ini butuh perjalanan yang agak jauh dan jalannya agak mengecil.
Tapi enaknya karena mungkin lokasinya agak masuk ke dalam, hotel ini punya view yang enak dan udaranya juga masih
gunung-gunung gitu, fresh. Di lantai
satu ada a mini coffeeshop and it’s very comfy. Orang-orang yang
ngelayanin disini juga baik-baik dan sopan. I
really appreciate for their services. What
makes it different to others is the interior design they have, unique and Instagram-able. Setiap kamar punya
tema yang beda-beda, jadi nanti kita pesan kamar sekaligus milih mau desain
gimana untuk kita. Setiap kamar memiliki fasilitas standar seperti wifi, AC, TV
dan kamar mandi. Di luar ada bangunan yang belum jadi, gue lupa ini bangunan
akan dijadikan apa.
Malam harinya kita jalan-jalan sekitar Bandung ditemani oleh
tante gue yang tinggal di Bandung. Dia ngajak kita makan di salah satu restaurant yang gede, dan sebenarnya restaurant ini juga ada di Jakarta. I actually wanted serabi kalau lagi di
Bandung. Makan serabi hangat malam hari, ditemani kopi dingin dan juga live acoustic music. Udah jadi rutinitas
kalau ke Bandung pasti ke toko serabi itu, gue lupa nama tokonya apa, tapi toko
ini ada di daerah Setiabudi. Tapi malam itu, we went to a fancy restaurant instead. Setelah makan, kita keliling
kota Bandung terus ke daerah Braga buat foto ala-ala. Hahaha. Sadly, those photos were deleted
accidentally.
Di pagi harinya kita diberikan breakfast yang unik. Breakfast-nya memiliki surat yang berisi
permintaan maaf dari pemilik hotel karena dia tidak bisa melayani secara
langsung kepada pelanggannya. Rasanya lumayan enak, not bad.
Setelah
sarapan kita mengunjungi dua rencana tujuan kita, yaitu The Lodge Earthbound Adventure Park dan Curug
Cimahi. Destinasi pertama kita adalah Curug Cimahi. Curug Cimahi disebut juga
Curug Pelangi merupakan air terjun yang berada di Jl. Kolonel Masturi, Desa
Kertawangi, Kecamatan Cisarua. Karena kita datang ke Bandung di hari kerja,
tante gue yang di Bandung tidak bisa menemani kita untuk kelilingin Bandung. So we put our lives on GPS along the day.
Kita tertarik dengan curug ini karena curugnya bisa berwarna-warni kayak
pelangi. Tapi mungkin lebih kelihatan kalau malam hari warna-warnanya. Kita
sempat bingung saat mulai dekat tempatnya, karena GPS udah bilang “you’ve arrived on your destination”
tapi kita gak nemu pintu masuk ke curugnya itu dan masih ada palang petunjuk
yang mengarahkan kita ke Curug Pelangi. Akhirnya kita mengikuti palang dan
tibalah kita di pintu masuknya.
Curug
ini buka tiap hari dengan harga tiket yang beragam, sesuai dengan jam kita
mengunjungi curug ini. Pukul 08.00 – 17.00 harga tiket masuk sebesar Rp
12.000,00/orang dan pukul 17.00 – 21.00 harga tiket masuk sebesar Rp
15.000,00/orang. Harga malam pasti lebih mahal karena curugnya berwarna-warni.
Pinginnya datang malam, tapi lagi-lagi we
only had one night in Bandung jadi gak bisa jalan-jalan ke banyak tempat.
Kita beli tiket untuk empat orang. I was
really excited! Untuk ke curug itu kita perlu jalan menuruni lembah lumayan
panjang. Jalan menuju curugnya tidak sulit, sudah ada jalan yang memang layak
untuk pejalan kaki. Sepanjang jalan gue mengambil beberapa foto yang indah.
Daerah ini masih bener-bener pure hutan,
jadi pohon-pohon masih lebat dan rindang serta hijau banget. Enak banget bisa
ngeliat pemandangan kayak gini, karena di Jakarta, Depok, dan Bekasi gak
mungkin banget bisa dapet pemandangan seperti ini. Oh iya, warna-warni dari air
terjun ini bukan alami ya… ini berasal dari lampu yang telah dipasang dibalik
air terjun. Hehehe.
Hanya saja……….. You
have to be aware of snakes along your way. Kita gak tau kalau daerah ini
banyak ular. Jadi saat kita jalan menuju curugnya, tiba-tiba gue ngeliat ular
warna hitam ngelintas di depan gue dengan cepat. Gue kaget dan mulai takut. Gue
meyakinkan diri gue dalam hati “ini cuma satu kok, cuma satu”. Tidak lama
setelah gue ngeliat ular, ada pasangan suami istri (mungkin) arab yang berlari
dari bawah ke atas. Gue teriak ke mereka “What
is wrong? What are you running from?”. Tapi mereka diam aja dan tetap lari
ke atas dengan wajah ketakutan dari sang suami. Istrinya menggunakan cadar,
sehingga gue gak tau ekspresi dia seperti apa. Karena kita sudah melihat satu
ular, kita memutuskan untuk berlari menuju curug tersebut. Gue berada di
barisan paling depan dan berlari agak kencang ke bawah, lalu tiba-tiba adek
kandung gue teriak “Kakak! Ada ular itu !! Awas kak!!”. Gila gak? Gue malah
makin kenceng larinya karna takut dan berhenti di antara turunan dan naikan.
Dan disini lah gue terjebak sendirian, gue terpisah oleh mereka. I was so scared. Ada dua ular di antara
jarak gue dengan saudara-saudara gue. Mereka ada di kanan-kiri jalan. Gue
teriak “Guard ! Help !” dan tidak
berhasil guys. Bodohya gue pake Bahasa Inggris sih. Lalu adek sepupu gue lari
ke atas memanggil penjaganya dan bilang kalau ada ular. Dan penjaganya hanya
bilang dengan enteng “Iyah memang banyak disini, apalagi di bawah”. Dia
bukannya nolongin tapi tetap diam disitu.
Kakak sepupu gue dan adek gue teriak ke gue supaya gue lari
aja menuju mereka karena ular yang ada di sebelah udah turun, tapi masih ada
lagi di sebelahnya. Gue tetep takut dan malah nangis…….. And I was thinking that would be my last time ever in life (?)
Dengan kesatrianya kakak sepupu gue ini, dia lari menuju gue dan narik gue
untuk naik ke atas. Sumpah capek banget naik ke atas dan itu lumayan jauh ya
lari-lari dari bawah ke atas. Tapi karena adrenalin gue lagi naik, lari gue tetap
cepat. Sampe atas gue ngos-ngosan dan duduk dulu untuk menenangkan diri, kaki
gue masih gemetaran, nafas gue juga masih belum teratur. And it was the first time my brother being mature. Dia ngasih gue
minum dan menenangkan gue. Gue ngeliat pasangan suami istri yang lari tadi,
sang istri membuka cadarnya, jongkok, menghadap bawah, menangis, dan mual. I assumed they were running from snakes too.
Alhasil kita tidak jadi ngeliat curugnya ☹ Tapi
setidaknya gue ada gambar dari jauh. Lalu kita melanjutkan perjalanan ke
destinasi selanjutnya, yaitu The Lodge Earthbound Adventure Park.
The
Lodge Earthbound Adventure Park berada di Jl. Maribaya Timur KM 6 Kampung
Kosambi, Cibodas, Lembang, Bandung Barat. Tempat wisata ini buka dari jam 09.00
hingga 17.00. Harga tiket untuk masuk tempat wisata ini adalah Rp 15.000,00/orang.
Disini ada restaurant, resort, dan outbound dengan beberapa spot yang Instagram-able. Tapi untuk berfoto-foto
di spot-spot tertentu kita perlu mengeluarkan ongkos yang lumayan menguras
dompet kita. Pemandangannya sungguh indah.
"The key to stay sane, positive and calm, is to set your expectations just right."
#88LOVELIFE
Comments
Post a Comment